SALAM

Saturday, November 12, 2011

Ikatan ini Anugerah Teristimewa PemberianNya

Sebut saja A dan B. Dua orang sahabat yang sejak kecil sering bercanda bersama, menangis bersama, bahkan melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi pun selalu bersama. Kecocokan antara keduanya telah terbingkai dalam sebuah jalinan persaudaraan yang unik, yang tak mudah kita temui di kebanyakan episode persaudaraan yang lain.

Suatu ketika, di sebuah serambi masjid kampus, mereka sepakat untuk saling mengoreksi dan mengevaluasi dir mereka masing-masing. Si A harus mengevaluasi kekurangan dan kelebihan si B. Begitu pun sebaliknya, si B juga harus bisa menyebutkan kekurangan dan kelebihan yang ada pada diri si A. Mereka bersepakat bahwa beberapa hari lagi akan bertemu di tempat yang sama untuk menyampaikan hasil evaluasi yang mereka siapkan mulai dari pertemuan itu. Hingga tibalah hari dimana mereka menyampaikan boring evaluasinya.

“A, silakan kamu mulai bacakan evaluasimu terhadap tingkahku selama ini.” Ucap si A mengawali pembicaraan.

“Tidak B, kamu saja yang memulainya. Sepertinya tulisanmu lebih banyak. Dan sepertinya kamu lebih siap untuk menyampaikannya lebih dahulu.”

“Hmm, baiklah. Aku yang akan memulainya.”

“Silakan B, aku akan mendengarkan.”

“Tapi,,, kamu janji ya tidak akan marah padaku setelah kubacakan penilaianku padamu?”

“Baiklah, aku tidak akan marah. Sampaikan saja sejujurnya padaku.”

“Err, kamu mau mendengar yang mana dulu? Tentang kelebihanmu atau kekuranganmu?”

“Kekuranganku saja dulu.”

“A, kamu itu orangnya egois, maunya selalu diperhatikan, tidak peka sama lingkungan, tak pernah mau terus terang tentang masalah yang menimpamu. Kamu itu selalu menyalahkan orang lain ketika ada masalah yang menimpamu, kamu itu……”

“maaf B, maafkan aku bila selama ini telah sering menyakitimu.” Ujar si A memotong perkataan si B yang sedang membacakan evaluasinya.

“Tak apa A, maaf juga bila kamu telah tersinggung mendengarkan evaluasiku ini. Tapi, aku masih belum selesai membacakannya. Apakah harus ku hentikan?”

“Tidak B, lanjutkan saja. Aku akan terus mendengarkannya.” Kata si A sambil menyeka pipinya yang mulai meneteskan air mata.

“Kamu itu, maaf…. Pemalas, tergantung pada orang tua, selalu bilang aku seperti anak-anak. Dan kamu itu plin-plan….” Sejenak B menatap wajah saudaranya. Binar matanya mulai terbasahi air mata yang mulai menetes melintasi pipinya.

“A, ada apa? Apa ku menyakitimu? Kalau begitu aku hentikan saja evaluasiku. Aku tak ingin sahabatku bersedih seperti ini.”

“Tidak apa B, terus lanjutkan saja. Aku akan terus mendengarkan nasihat dari sahabat terbaik ku.”
“Aku tak sanggup melihatmu bersedih seperti ini. Biar ku hentikan saja ya.”

“Tolong B, lanjutkan saja. Aku tidak apa-apa sahabatku. Aku hanya ingin mengetahui dari lisanmu mengenai kesalahan-kesalahanku padamu. Apakah kekuranganku masih banyak?” ujar A sambil menahan tangis yang hampir meledak “Maaf A, masih ada tiga halaman lagi. Baiklah, aku lanjutkan.” Si B pun melanjutkan membaca daftar kekurangan si a yang telah ia tuliskan.
Selanjutnya, si B membacakan daftar kelebihan yang dimiliki si A.

“A, bagiku kamu tetap istimewa, kamu adalah temanku yang paling cerdas dan kamu sering mengingatkanku bila ku tersalah.” Si B membacakan daftar kelebihan si A yang hanya tiga paragraph tersebut.

“Sudah A, aku sudah membacakan semuanya. Selanjutnya giliranmu.”

Sambil berusaha senyum, si A membacakan daftar kelebihan dan kekurangan si B.

“Sekarang aku akan membacakan kelebihanmu dulu saja ya B.”

“Baik A, kalau kamu berkenan, silakan.”

“Kamu itu kreatif, cekatan, suka menolong, penuh ide brilian, konsisten, tak mengharap imbalan duniawi, kata-katamu selalu terjaga, dan selalu senyum tatkala menyapa orang-orang di sekitarmu….” Ucap si A panjang lebar hingga tiga halaman A4 ia selesai bacakan.

“sudah B, aku sudah selesai membacakan semua yang kutulis.”

“kekuranganku?”

“Tidak, tidak ada…. Aku sudah rampung membaca semua evaluasiku padamu saudaraku.”

“Apa maksudmu? Apa saja kekuranganku dan tingkah burukku yang telah menyakitimu selama aku menjadi sahabatmu A? coba sebutkan saja, aku tidak akan marah.”

“Aku tak bisa menuliskan apapun pada lembar kekuranganmu A. bagiku, kekuranganmu telah mengajarkanmu untuk lebih dewasa dan bijak dalam mengambil setiap keputusan. Dan semua itu telah terbingkai indah dalam memori hidupku sahabatku. Oleh karena itu tak ada yang bisa kubacakan mengenai kekuranganmu.”

“Duhai sahabatku, maafkan aku. Sungguh engkau adalah sahabat terbaik yang pernah kutemui. Engkau adalah mutiara yang selalu menjadi perhiasan dalam hidupku, menghiasi setiap lembaran perjalanan kehidupan yang penuh kejadian mengharu biru ini.”

Dan kini, serambi masjid kampus itu pun menjadi saksi, tetesan air mata yang mengalir karena sebuah ikatan yang begitu berharga. Ikatan ukhuwah.

*****
Ah, rasanya aku belum bisa menjadi seperti A yang mampu menangkap setiap aura kebaikan dari sahabatnya. Menjadikan segala kekurangan sahabatnya sebagai pelecut semangat untuk mendewasakan diri tanpa mengungkit-ngungkit apalagi membicarakan kekurangan sahabatnya pada orang lain. Kita, pasti pernah punya salah. Bahkan sering kita lakukan pada orang lain. Pada sahabat kita. Saat ego masih tersimpan dalam hati, saat persepsi menutupi mata hati bahwa orang lain harus menjadi yang sempurna di hadapan kita, tanpa cacat, tanpa kekurangan. Maka, sesungguhnya kita telah membutakan mata hati kita untuk memberikan permaafan pada orang lain. Menganggap setiap kesalahan sahabat kita adalah dosa besar yang takkan termaafkan dan telah menutup pintu maaf bagi setiap kesalahan mereka.

Sahabatku, Saudaraku… ikatan kita bukan sembarang ikatan. Kita diikat bukan karena kesamaan kampus, kesamaan asal daerah, kesamaan jurusan, kesamaan organisasi. Akan tetapi kita diikat atas dasar cinta yang terbingkai dalam ukhuwah. Cinta pada Allah dan ukhuwah yang menggelora mempersatukan setiap keping-keping hati yang tersebar di seluruh penjuru bumi-Nya ini.

Sahabatku, Saudaraku… ikatan kita adalah ikatan yang istimewa. Yang telah dipertautkan oleh Yang Maha Istimewa, yang selalu kita ucapkan doa-doa rabithah dalam waktu istimewa kita, di sepertiga malam terakhir sambil berdoa, Ya Allah….Sesungguhnya Engkau tahu bahwa hati ini telah berpadu ,berhimpun dalam naungan cintaMu, bertemu dalam ketaatan, bersatu dalam perjuangan, menegakkan syariat dalam kehidupan, Kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukilah jalan-jalannya, terangilah dengan cahayaMu, yang tiada pernah padam, Ya Rabbi bimbinglah kami. Lapangkanlah dada kami, dengan karunia iman dan indahnya tawakal padaMu, hidupkan dengan ma’rifatMu, matikan dalam syahid di jalan Mu, Engkaulah pelindung dan pembela…..

Sumber: link

Wednesday, November 2, 2011

Semoga Ummat Terislah!!! (Part 3)

"Masya Allah ya syabab, kamu nampak sangat bersemangat." Abu Syahid menepuk belakang tubuhku. Aku menggeleng.

"Abu Syahid, apa bezanya denganmu? Walaupun berumur tapi tangkas. Berapa kereta kebal telah kamu letupkan semalam?"

"Tiadalah kamu yang meletupkan itu apabila kamu meletupkan itu, melainkan Allah jugalah yang meletupkannya."

Saya ketawa. Abu Syahid, amat merendah diri . Tawaddu', itu antara ciri-ciri kepimpinan yang ada dalam semua pemimpin kami. Walaupun dia seorang general yang hebat, tetap mempunyai ciri seperti ini. Sebenarnya, kata-kata Abu Syahid tadi adalah maksud firman Allah SWT  yang sering dibacakannya sebelum menembak

"Dan tidaklah kamu yang melontar ketika kamu melontar melainkan Allah jugalah yang melontar." Segalanya diserahkan pada Allah SWT.

"Alhamdulillah, Allah beri kemenangan kepada kita."

"Alhamdulillah." Aku dan rakan-rakan yang lain menjawab.

"Tapi Abu Syahid, kemenangan ini belum muktamad. Bila agaknya bumi ini akan dibebaskan oleh Allah SWT?" Ahmad Khaffajah bersuara.

"Esok akan ada peperangan lagi, lusa akan ada peperangan lagi, dan begitulah seterusnya ya Abu Syahid. Bila semua ini akan berakhir? " Ayyub, seorang lagi sahabatku bersuara.

Abu Syahid mengukir senyuman. "Bila Ummat terislah."

"Saya sebenarnya tidak faham . Apa maksud Abu Syahid apabila ummat terislah?

Kita memperkuatkan diri kita semenjak beberapa tahun kebelakangan ini. Kita sukar apabila Israel membedil tanah kita, bukankah kita sudah ada kekuatan untuk menumbangkan mereka?" Muhannad, rakan rapatku dalam kumpulan ini seakan tidak berpuas hati.

Aku juga ingin mengetahui jawapan Abu Syahid. Sebenarnya, bukan Abu Syahid sahaja. Semua kepimpinan kami, kalau ditanya bila peperangan ini akan berakhir, maka mereka akan menjawab: Bila ummat terislah.

Kami tidak faham. Sedangkan, kami amat arif betapa tentera kami sudah cukup bersedia untuk menumbangkan Tel Aviv. Semenjak beberapa tahun kebelakangan ini,walaupun kami tahu teknologi mereka sudah meningkat , tetapi mereka tetap tidak mampu menembusi sempadan kawasan kami. Walaupun bilangan tentera kami lebih sedikit, dan senjata kami tidaklah setaraf dengan senjata mereka, tetapi kami mempunyai kekuatan yang mereka tiada. Malah, strategi kami amat ampuh. pembuat-pembuat senjata dan letupan kami juga semakin hebat.
 
Kenapa perlu menanti ummah ini terislah?? Berapa lama itu??

Abu Syahid memandang kami semua.

"Adakah kamu sudah bosan dengan harian kamu?"

"Tidak, ya Abu Syahid, cuma hati kami tercalar-calar melihat tanah ini dinodai. Kami ingin menghentikannya segera". Muntasir Billah, seorang lagi ahli kami menjawab.

*p/s: kepada pembaca2 setia notaperjalanankami~ pada pandangan anda mengapakah kita perlu menunnggu hingga UMMAH TERISLAH??? Sila berikan komentar anda sebelum saya mengakhiri cerpen ini ..
~Moga Allah Redho~


7.00pm
2 November 2011
Selatan Semenanjung Malaysia.
Moga kita mampu menyumbang kepada pengislahan ummah!

Friday, October 28, 2011

Semoga Ummah TerISLAH!!! (Part 2)

"Usamah nak ikut abang". Tangan kecilnya menarik seluarku. Ditarik mengejut, membuatkan kifayeh di leherku melebar ke dada. Aku membetulkan kifayehku, sekaligus duduk memandang mata biru Usamah.

"Sayang, sayang tinggal di rumah dengan ibu. Abang mungkin tidak akan pulang."

Dan aku keluar tanpa memandang ke belakang lagi. Tangisan Usamah selepas itu tidak menghentikan langkahku. Yang menemaniku hanyalah Ak-47 warisanku daripada ayah yang telah syahid, dan keimananku yang tidak tergugah kepada Allah SWT.

"Ibu redha padamu sayang, ibu redha". Itu kata-kata ibu dengan linangan air mata.

Bom!

Bumi bergegar. Ledakan bom yang amat kuat mengejutkan aku dari lena.

"Yallah, bergerak mengikut rancangan, bergerak!" Abu Syahid sebagai ketua pertahanan mengeluarkan arahan.

Aku terus bergerak ke posisi yang telah ditatapkan. kami menggunakan teknik Khalid Al-Walid semasa peperangan Mu'tah untuk mengaburi musuh dengan membuatkan bilangan kami kelihatan ramai. Bulan terang merupakan kekurangan kepada kami yang cuba bersembunyi dalam kegelapan malam, namun ini juga kelebihan kami untuk mengesan kehadiran mereka. Kami seakan-akan seri.



Aku tidak terus membedil. Memandangkan bekalan peluru kami amat sedikit, aku lebih senang memerhatikan sasaran aku terlebih dahulu, dan menembak dengan tepat. Tidak membazirkan peluru aku. Kelebihan yang Allah berikan kepada aku adalah, mata aku amat tajam. Aku membidik beberapa kali pada kelibat-kelibat yang mampu ditangkap oleh mataku. Setiap bidikan menamatkan nyawa. Aku amat arif dengan pakaian ketenteraan Israel. Kami telah mengkaji di bahagian mana peluru boleh menembusi tubuh mereka.

Rakan-rakanku yang lain membedil dengan ganas tanpa memberikan peluang tentera-tentera Israel bergerak maju ke hadapan.

"Wama ramaita iz ramaita walakinnalaha rama!" Abu Syahid menjerit sebelum melepasakan tembakan bazooka. Peluru menuju tepat ke lubang penembak kereta kebal, menyebabkan kereta kebal itu meletup dengan kuat sekali. Kedudukan tentera Israel semakin jelas dengan cahaya dari api yang keluar. Aku mengambil peluang ini dengan membidik mati beberapa orang lagi tentera Israel.


"Ubah posisi!" Abu Syahid mengeluarkan arahan.

Tembakan abu Syahid tadi menjelaskan kedudukan kami, menyebabkan bangunan tempat kami bersembunyi diketahui. tentera Israel mula menumpukan perhatiannya ke arah kami. Perkara ini sudah kami jangka. kami bergerak ke posisi seterusnya. Bangunan tempat kami bertahan, ditinggalkan. Baru sahaja kami keluar dari bangunan itu, letupan besar berlaku menyebabkan tingkat tempat kami berlindung tadi roboh dan hancur. Satu lagi kereta kebal mereka menyerang.

Ketika ini, kami dapat mendengar tembakan bertalu-talu di kawasan tentera Israel. Satu lagi kumpulan penyerang  sedang melaksanakan tugas. Mereka dari sudut yang berbeza, bertindak sebagai pengkucar- kacir barisan tentera Israel. Strategi ini akan membuatkan kami kelihatan amat ramai, walaupun sebenarnya satu pasukan kami, hanya 10 orang sahaja beraksi. Malam ini, sekitar 3 kumpulan sahaja yang dihantar untuk menguruskan tentera Israel yang memecah masuk kawasan ini.

"Tenang. tenang Ya syabab." Abu Syahid menepuk-nepuk dadaku.

Aku mengiyak sengih. Aku tenang. Aku kembali tenang. peluru baru kumasukkan, mengantikan kelongsong-kelongsong kosong. Kami menyerang lagi selepas tentera Israel mula menumpukan perhatian mereka ke pasukan yang lagi satu. Keadaan mereka kucar-kacir. Siapa yang lebih tahu akan kawasan ini daripada kami? Hanya Allah.

Aku membidik dengan sepenuh perhatian. Bunyi letupan dan tembakan peluru sudah menjadi musik harian aku.

Semenjak ibu melepasakan aku sebagai seorang mujahid, aku tidak lagi berhajatkan apa-apa melainkan kemenangan di tangan muslimin. Aku tidak kisah tidur dimana sahaja, aku tidak kisah makan minum apa sahaja, aku tidak kisah mandi atau tidak. Aku hanya kisah perjuangan aku, dan hubungan aku dengan Allah SWT. Inilah hakikat menjadi mujahid. Hidup bukan mudah, jalan hidup ditaburi duri-duri terpacak. Kalau dunia itu ada di dalam hati, maka ini tidak akan mampu dilalui. Kecuali selepas melepaskan dunia dari hati, maka tiadalah apa-apa yang dihargai oleh diri ini melainkan apa yang Allah redhai.

Dan aku sentiasa mengharapkan, aku adalah orang yang disabdakan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah bersabda:

"Akan sentiasa ada segolongan umatku yang menegakkan kebenaran, dan berjuang menentang musuh mereka. Barangsiapa yang cuba menghampakan mereka, sesekali tidak akan dapat melukakan mereka, mahupun oleh kesusahan yang menimpa mereka, sehingga datang keputusan Allah, dan mereka akan tetap sedemikian."

Sahabat-sahabat bertanya:

"Wahai Rasulullah, di manakah mereka ini?"

Rasulullah menjawab:

"Di Baitul Maqdis, dan sekitar Baitul Maqdis."
 
"Takbir! Takbir! Takbir!". Kami menyahut dengan Allahu Akhbar, sambil terus-terusan membidik musuh. Inilah rutin kami. Kami, yang berada di sekitar Baitul Maqdis.



Tuesday, October 25, 2011

Semoga Ummah TerISLAH!!! (Part 1)

Rasulullah SAW bersabda:

"Satu hari nanti kamu akan dikerumuni musuh, sebagaimana semut menggerumuni makanan".




Sahabat-sahabat bertanya:

"Apakah kami ketika itu sedikit ya Rasulullah?"

Rasulullah SAW menjawab:"Tidak, bahkan kamu ramai.Tetapi hanya seperti buih di lautan"



Seperti buih di lautan...
Seperti buih di lautan................
Seperti buih dilautan......................

          Sabda Rasulullah SAW yang masyhur akan keadaan ummatnya pada akhir zaman, terngiang-ngiang di dalam kepalaku. Ak-47 kurapatkan ke dada. Teman setiaku beberapa tahun ke belakangan ini. Ku layan seperti salah sebuah bahagian tubuhku. Sekarang aku sedang bertahan bersama sekumpulan kumpulan pejuang yang lain. Israel memecah masuk kawasan kami secara mengejut semalam dan melakukan kemusnahan yang besar. Mujur plan kecemasan dapat berjalan dengan baik, maka bilangan yang terkorban amat sedikit. Kini, bandar ini telah kosong dan yang tinggal hanya pejuang-pejuang sahaja.

          Dalam kesejukan malam yang mencecah 0 darjah celcius ini, fikiran aku menerawang kepada nasib kami, penduduk tanah berdarah Palestina. Sampai bila agaknya kami akan begini? Tiba-tiba bahuku dicuit. Aku menoleh, kelihatan Abu Syahid sedang tersenyum ke arahku. Terang cahaya rembulan membuatkan wajahnya yang bersih tampak bersinar. "Pejuang tidak boleh leka wahai Asad".



          Aku mengemaskan pegangan senjataku. Kami ditugaskan mengawal di bahagian hadapan. Menanti musuh yang melalui di kawasan ini untuk melancarkan serangan hendap."Apa yang kamu fikirkan hingga ku lihat seakan-akan rohmu sudah terawang-awangan?" Abu Syahid menyoal. Walaupun umurnya lebih tua, dan pengalamannya lebih luas, dia memang terkenal dengan sikap ramah dengan mereka yang lebih muda daripadanya.


"Hanya terfikir akan nasib kita". Aku menjawab pendek. Segan sebenarnya.

Abu Syahid mengangguk. "Apa maksud nasib kita?".

"Ya la, nasib bumi kita ini, nasib diri kita ini". Jawabku pendek.

"Kau rasa menyesal dengan ansib yang Allah berikan ini?"soalnya lagi

Aku menggeleng.

"Sesekali tidak. Walaupun orang melihat ini satu bencana, aku melihat ini satu kemuliaan. Peluang berjihad di jalan Allah, peluang mengorbankan nyawa, dan peluang untuk mencapai syahid. Kemuliaan apakah yang lebih besar daripada kemuliaan ini?" ulas Abu Syahid lagi.

"Saya cuma terfikir akan amsa hadapan kita."

"Kau rasa kita tida masa hadapan?"

Sekali lagi aku menggeleng.

"Bukankah Allah telah berjanji tidak akan mensia-siakan kita?" Abu Syahid menguntum senyum. "Habis, apa yang kau gusarkan?"

"Bila semua ini akan berakhir?" Aku menghela nafas.

"Bila umat terislah". Jawabnya pendek.

Abu Syahid, membuatkan aku diam dan berfikir.... bila umat terislah. Membuatkan aku teringat akan hadis riwayat Abu Daud tadi.

"Kalau begitu, tidak akan berakhir la perjuangan kita ini?" Aku merenung ke dalam mata Abu Syahid..

Abu Syahid ketawa kecil. "Akan berakhir, apabila umat ini terislah".

Jawapannya membuatkan aku terdiam. Abu Syahid tidak pula menyambung kalamnya. Perhatian kami terus tertumpu pada suasana sekeliling. Rembulan terang hari ini, menemani penjagaan kami


Back to Gaza. Sharing from the article that I had read during my semester holiday. Hopefully this article may bring our heart to been close to our brothers and sister in Palestine



27 Zulqaedah 1432
25 October 2011
10.02pm
AP4,Universiti Utara Malaysia

Saturday, October 22, 2011

Kita Membayar Untuk Dijajah...




Scene 3

"Nasib Baik aku turun awal, sempatlah aku beli tiket konsert Justin Bieber, kalau tak menangislah aku jawabnya". Mira menceritakan susah payahnya untuk membeli tiket konsert artis remaja paling popular yang bakal berlangsung..

Biasa bukan kita dengar dialog-dialog diatas? Bahkan, mungkin kita adalah salah seorang yang pernah menuturkannya. Babak diatas adalah realiti yang mungkin kukuh bertapak di hati golongan muda mudi (baca: generasi terjajah) zaman ini. Bahkan orang yang tidak melakukan mungkin akan dianggap sebagai seorang yang ketinggalan dalam mengikuti arus perkembangan semasa....

Salah satu rubrik menarik dalam Majalah Sinergi edisi ke 6- "Kita  Membayar Untuk Dijajah" ...

Untuk mengetahui kandungan lanjut apakah yang dimaksudkan dengan topik "Kita Membayar Untuk Dijajah"...

Sila dapatkan majalah Sinergi Edisi Ke 6 daripada pengedar2 yang berhampiran DPP anda...Khas untuk pelajar-pelajar UUM...
So, apa tunggu lagi...



Senarai pengedar yang boleh dihubungi:


YAB- Azimah (019-4493416)
Muamalat- Firdaus (013-4486571)
TM- Safuan (019-4029906)
Tradewinds/ Petronas- Huda (019-5653691)
Kachi- Aini (019-4602074), Nazirah (013-4520973)


 

Friday, September 16, 2011

Hasbiyallah wa ni'mal wakil ( 1 )

       Alhamdulillah..segala puji bagi Allah, Rabb yang memberikan segala nikmat kepada kita walaupun kita, manusia yang lalai sentiasa alpa dan leka dan sentiasa ingkar akan perintahNya. Namun Dia terus-terusan memberikan segala nikmatNya. Nikmat kelapangan untuk membaca pos kali ini; nikmat iman dan Islam pastinya serta nikmat tarbiyah yang tidak semua orang dapat. Alhamdulillah. Seterusnya selawat dan salam buat junjungan besar Muhammad b Abdullah, Rasulullah yang memberikan segala kudratnya demi tertegaknya Islam, para ahlul bait, sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in, ikhwah akhawat serta semua pejuang Islam yang masih telah masih dan akan berjuang dijalan ini, kita doakan semoga semuanya akan terus tsabat tegar dan istiqomah serta istimrar untuk meneruskan perjuangan ini hingga mendapat jannahNya.


Al-  Wakil

Mari kita menjelajah dan mengenal salah satu asma Allah iaitu Al-Wakil.

Al-wakil adalah Dzat yang dengan rahmatNya mengurusi segala persoalan makhluk sesuai dengan kemaslahatan mereka tanpa menimbulkan kemudaratan. Mungkin penjelasan ini lebih kepada teori, namun itulah yang benar-benar terjadi dalam realiti kehidupan seorang hamba.


Dengan rahmatNya, Allah mengurusi segala persoalan makhluk dan tidak menyia-nyiakan mereka. Jadi, Allah tidak akan pernah memnberi kemudaratan. Sebab, semua af'al (perbuatan) Allah adalah baik, meski secara lahir terlihat sebagai musibah.


Apakah anda pernah melihat seseorang yang mewakilkan suatu urusan kepada orang lain, kemudian wakil itu bersikap khianat?


Bagaimana mungkin orang seperti itu sebagai wakil? Allah yang salah satu namaNya adalah al-wakil tidak pernah menyia-nyiakan hambaNya. Keyakinan seperti itulah maka setiap malam Rasulullah S.A.W berdoa,


"Aku penuhi panggilanMu, wahai Tuhanku; kebaikan semuanya adalah milikMu; dan kejelekan semuanya tidaklah dariMu. Jadi, hanya kebaikanlah yang datang dari Allah"


Al-WAkil Berbuat Sesuai KehendakNya

     Terkadang dunia ini terasa gelap. Semua pintu tertutup, seakan Allah hanya ingin membuka pintuNya saja untuk anda dan menutup pintu-pintu yang lain. Doa Nabi kepada suku Quraisy boleh dicontohi.

Peristiwa kematian 2 orang kesayangan Rasulullah amat menguji hati kekasih ummat ini. tetapi Al-Wakil berkehendak kedua pelindung itu meninggal sebelum dakwah tersebar luas dan Islam sempurna. keduanya wafat ketika Rasulullah s.a.w amat memerlukan mereka. Allah sekan ingin berkata kepada RasulNya,


"Tak ada yang benar-benar dapat engkau jadikan wakil selain Diriku"


Apa yang dilakukan oleh nabi sepeninggalan dua pelindung tersebut?


Rasulullah justeru semakin mencurahkan seluruh tenaganya, bahkan beliau rela berjalan 100km untuk berdakwah kepada penduduk Thaif. Rasul seakan berkata kepada al-wakil,

"Aku pasrah kepadaMu atas apa yang akan terjadi padaku. aku redho atas apa yang Engkau lakukan."

 Sumber: Dari Hati ke Hati, Amru Khalid

Saturday, July 23, 2011

Pedoman dari Sirah: Protes Burung Hud-hud

Salam alaik ukhtifillah,

Apa khabar iman semua? InsyaAllah, ana yakin semuanya sihat di sisi Allah, malah tinggi jua di mata Allah.

Selawat ke atas Rasulullah yang tidak jemu2 menyampaikan pesanan demi berkembangnyanya Islam. Terima kasih ya Rasulullah. Tanpamu, tiada dapat kami menikmati nikmat besar menjadi seorang muslim hari ini.


Sujud merupakan lambang ketundukkan, kepasrahan , kekhusyukan, dan sikap merendahkan diri. Kerananya, burung hud-hud berang dan protes keras di salah satu operasi kawalannya apabila melihat salah satu kaum sujud kepada selain Allah, serta berkata dengan marah kerana Allah seperti yang dinukilkan dalam surah  An-Naml: 25

"Mereka tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kalian sembunyikan atau yang kalian nyatakan"


Dalam mengarungi perjalanannya yang panjang, burung hud-hud tidak mungkin mendengarkan ucapan kaum tersebut terhadap apa yang mereka sembah. Iaitu kalimat-kalimat syirik yang mendekatkan mereka kepada matahari. Tapi, penglihatan burung hud-hud tertumpu kepada perlakuan mereka sujud kepada selain Allah. Sebab burung hud-hud tahu bahawa sujud itu hanya layak dilakukan kepada pemilik langit dan bumi sahaja.

Aku berbicara pada diriku, sudah sempurnakah sujud ku pada Sang Pemilik Langit dan Bumi? Sudah layakkah diri ini mengaku hamba yang taat? 

Sedangkan burung pun tahu erti sujud yang sebenar..
Itulah fitrah manusia yang sering alpa dan leka dengan nikmat sementara anugerahNya.
Jangan sampai kita terpedaya buat sekalian kalinya, setelah hampir semua kitab2 dibaca. Setelah banyak surah diingati dan disampaikan kepada kita.

Masih menunggu? Sampai bilakah?

"Apakah belum tiba waktunya bagi orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan mengingat kebenaran apa yang diturunkan-Nya (al-Qur'an) dan janganlah mereka seperti ahli kitab sebelum mereka, telah lama mereka berpisah dari ajaran Nabinya, sehingga hati mereka menjadi kasar (tidak tembus cahaya kebenaran), dan kebanyakan mereka menjadi orang fasik."
(Al-hadid:15)


Rujukan: Taujih Ruhiyah Pesan2 Spiritual Penjernih Hati (Jilid 2)
             Al- Quran Terjemahan (27:25)(57:15)



Contengan: Aina Qalbyna?